Aberasi Kromosom

Sabtu, 18 Mei 2019

     Aberasi kromosom adalah perubahan yang terjadi pada jumlah atau susunan kromosom dalam sel yang diakibatkan adanya kehilangan, pengaturan kembali bahan genetik ataupun duplikasi. Aberasi kromosom adalah salah satu bentuk mutasi. Sebuah mutasi kromosom yang menyebabkan individu untuk memiliki jumlah abnormal kromosom disebut aneuploidi. Sel aneuploid terjadi sebagai akibat dari kerusakan kromosom atau kesalahan non-disjungsi yang terjadi selama meiosis atau mitosis. Non-disjungsi adalah kegagalan kromosom homolog untuk memisahkan dengan benar saat pembelahan sel. Ini menghasilkan individu baik dengan kromosom tambahan atau kehilangan. Menurut Reece, et al (2011) zigot aneuploidi yang kehilangan satu kromosomnya (2n – 1) disebut monosomik, jika kromosom aneuploidi hadir berupa triplet karena terjadi kelebihan 1 kromosom disebut trisomik (2n + 1).
     Sebuah mutasi kromosom yang menghasilkan individu dengan lebih dari satu set haploid kromosom dalam sel disebut

Apa Itu Nutrigenomik?

Kamis, 16 Mei 2019

     Istilah "nutrigenomik" pertama kali dijelaskan pada tahun 2001 dari Pelegrin (2001) dan kemudian, muncul pesat pada tahun-tahun berikutnya (Pavlidis, et al., 2015). Nutrigenomik merupakan ilmu yang mempelajari hubungan molekuler antara nutrisi dengan respon dari gen, sehingga akan dipahami tentang bagaimana nutrisi mempengaruhi jalur metabolisme tubuh bahkan mempengaruhi timbulnya suatu penyakit. Menurut Go et al. (2005) nutrisi tidak hanya bertindak sebagai substrat untuk metabolisme tetapi dapat juga mempengaruhi proses yang berlangsung secara bersinambungan dari genom ke transkriptom ke proteom atau genotip, kemudian ke fenotip. Nutrigenomik adalah analisis prospektif untuk mengetahui peranan berbagai zat gizi dalam mengatur ekspresi gen.


Nutrigenomik sebagai pendekatan pencegahan penyakit
(Neeha dan Priyamvadah, 2013)

Biodiversitas dan Karakteristik Amfibi dan Reptil

Minggu, 03 Juni 2018

>> Kelas Amfibi

Amfibi adalah definisi filogenetik dari 3 kelompok modern berupa salamander (Caudata), katak dan kodok (Anura), dan caecilian (Gymnophiona). Nama sistematik yang tepat untuk kelompok tersebut adalah Lissamphibia, dan semua lissamphibian berasal dari nenek moyang yang sama, yang hidup di masa Paleozoikum (Schoch, 2014).

Amfibi dicirikan dengan kulit yang lebab, yang mana kadang halus atau bekutil, namun tidak ditutupi sisik, bulu, atau rambut. Mereka tidak memiliki cakar atau kuku pada kaki-kakinya. Kulit amfibi terdiri dari banyak sekali kelenjar mucus, yang menyekresikan substansi untuk proteki diri, biasanya beracun dan tidak menyenangkan bagi predator. Walau beberapa amfibi dewasa memiliki paru-paru, respirasi paling banyak terjadi melalui kulit, dan pertukaran air juga terjadi melalui kulit. Oleh karena itu, beberapa spesies amfibi hidup di tempat lembab atau basah (Harding dan David, 2017).

Diolah dari berbagai sumber dan Hickman et al. (2003), berikut urutan taksa dari kelas Amfibi:

Mengenal Mikroalga Botryococcus braunii

Sabtu, 31 Maret 2018

     Botryococcus braunii adalah mikroalga hijau fotosintetik dengan kandungan klorofil mencapai 1,5-2,8%, terdiri dari klorofil a, b, dan c, sehingga di permukaan perairan tampak berwarna hijau-coklat kekuningan (Kabinawa, 2008). Menurut algaebase.org (n.d), berikut klasifikasi Botryococcus braunii:
  • Empire: Eukaryota
  • Kingdom: Plantae
  • Subkingdom: Viridiplantae
  • Phylum: Chlorophyta
  • Class: Trebouxiophyceae
  • Ordo: Trebouxiales
  • Family: Botrycoccaceae
  • Genus: Botryococcus
Botryococcus braunii
Guiry (2018), Weiss, et al (2010), dan Kabinawa (2008) menyebutkan ciri-ciri dari Botryococcus braunii, adalah sebagai berikut:

Sekilas tentang Huntington's Disease

Rabu, 28 Maret 2018

     Huntington’s disease atau penyakit Huntington merupakan suatu penyakit degeneratif yang menyerang sistem saraf, disebabkan oleh suatu alel dominan mematikan yang tidak memiliki pengaruh fenotipik nyata sampai individu yang bersangkutan berusia kira-kira 35-45 tahun (Campbell, et al, 2002).
     Menurut Huntington’s Disease Society of America (2017) Huntington’s disease (HD) merupakan kelainan genetik fatal yang menyebabkan kerusakan pada sel-sel saraf pada otak. HD menyerang seluruh area dari otak, namun beberapa area lebih rentan daripada yang lainnya. Bagian dari otak yang paling dipengaruhi pada awal munculnya HD adalah bagian inti (nuclei) dari sekelompok gugus sel saraf, basal ganglia, yang berperan dalam pergerakan dan kontrol perilaku. Penyakit ini akan memperburuk kemampuan fisik dan mental seseorang dan belum ada obatnya. Gejala biasa muncul antara usia 30 sampai 50 tahun. Pada akhirnya, individu yang lemah akan mengalami pneumonia, gagal jantung, atau komplikasi lainnya. Adapun gejala-gejala pada penderita HD adalah:
 
TEMPLATE MODIFIED BY LULUKADA