Prebiotik: Pengertian, Jenis, dan Efeknya pada Mikroekologi Usus

Sabtu, 16 Oktober 2021

Saluran pencernaan manusia merupakan ekosistem mikrobia kompleks yang terdiri dari ribuan spesies bakteri. Kolon dihuni oleh sekitar 1011 bakteri per gram dari konten. Bakteri dan aktivitas metaboliknya dapat memiliki efek positif maupun negatif pada kesehatan (patogenik). Keseimbangan ekosistem tersebut bersifat dinamis dan mungkin dapat berubah akibat penambahan usia, pengobatan, stress, makanan, dan faktor lingkungan lainnya. Pemeliharaan komunitas bakteri yang terdiri dari utamanya spesies menguntungkan dan proses pembusukan (degradasi protein) minimal dipercaya penting untuk menjaga kesehatan usus.

Terdapat dua pendekatan untuk meningkatkan jumlah organisme pendukung kesehatan saluran cerna.

(1) Pemasukan secara oral mikroba hidup yang menguntungkan. Organisme ini, merupakan probiotik dari bakteri asam laktat dan bifidobacteria yang merupakan bagian dari mikroflora normal pada usus manusia. Bifidobacteria sendiri merupakan genus dominan yang dapat ditemukan pada kolon individu sehat. 

Infeksi Vibrio vulnificus

Jumat, 05 Juni 2020

Vibrio vulnificus merupakan bakteri Gram negatif halofilik, berbentuk batang, yang biasa ditemukan pada perairan pantai yang hangat (68°F/ 20°C), estuari, dan produk makanan laut. Bakteri ini dapat menyebabkan gastroenteritis parah, diare, dan luka infeksi. Infeksi yang disebabkan oleh V. vulnificus berasal dari dua sumber yang berbeda, yaitu:

  1. Pengonsumsian makanan laut yang terkontaminasi, khususnya moluska seperti kerang-kerangan (ketika kontaminasi bakteri mencapai lebih dari 10^5 per gram) atau;
  2. Luka yang terpapar air laut.

V. vulnificus merupakan patogen oportunis. Faktor terjadinya infeksi termasuk usia lanjut, jenis kelamin laki-laki, dan penyakit yang mendasari khususnya sirosis hati, imunodefisiensi, diabetes, dan hemokromatosis. V. vulnificus memproduksi catechol dan hydroxamate siderophores (sistem pengkhelat besi dengan afinitas tinggi). Karena hati merupakan

Kerusakan Produk dan Penanganan Insekta Pengganggu

Jumat, 15 Mei 2020


Produk pasca panen mudah mengalami kerusakan akibat berbagai penanganan yang dilakukan sehingga menyebabkan penurunan mutu. Jenis-jenis kerusakan produk meliputi:
1.        Kerusakan Fisik
Kerusakan produk yang disebabkan perlakuan fisik, contohnya adalah pengerasa lapisan luar produk (misal: permukaan kulit yang dikeringkan atau dibekukan)
2.        Kerusakan Mekanis
Kerusakan produk yang disebabkan adanya benturan-benturan mekanis selama pasca panen, pengemasan, pengangkutan, dan penyimpanan pangan. Benturan mekanis dapat mengakibatkan memar pada permukaan kulit dan jaringan produk, memicu kerusakan lebih lanjut akibat tumbuhnya mikroorganisme.
3.        Kerusakan Mikrobiologis
Kerusakan yang dapat terjadi pada bahan baku, produk setengah jadi, atau produk jadi akibat mikroorganisme seperti bakteri, kapang, dan khamir.
4.        Kerusakan Biologis
Kerusakan produk yang disebabkan oleh

Pengertian dan Tipe Kromatografi

Sabtu, 29 Juni 2019

Pengertian:
Kromatografi adalah teknik untuk memisahkan komponen-komponen dalam campuran, yang bertujuan untuk menganalisis, mengidentifikasi, memurnikan, dan mengkuantifikasi atau menghitung komponen tersebut.

2 Konsep Dasar:
1. Fase stasioner/ fase diam
2. Fase mobile/ fase bergerak

Beberapa Tipe Kromatografi:
1. Paper Chromatography
        Kromatografi dengan kertas
  • Sampel: solution/ liquid
  • Fase diam: paper/ paperstrip
  • Mengidentifikasi komponen secara kualitatif saja
  • “Rf” sebagai jarak migrasi dari komponen pada kertas

(Sumber: biologyreader.com)

Mekanisme Penurunan Sistem Imun pada Penderita HIV

Sabtu, 22 Juni 2019

HIV akan menimbulkan penurunan jumlah sel limfosit T CD4. Virus HIV masuk ke tubuh melalui jaringan mukosa dan darah, virus pertama kali menginfeksi sel T, sel dendrit, dan makrofag. Dimana kedua sel mempunyai molekul CD4. Infeksi akan terjadi di jaringan limfoid dan virus akan menjadi laten untuk jangka waktu yang panjang (Kumar, et al., 2014).
Mekanisme penurunan jumlah sel T CD4 pada penderita HIV melalui apoptosis sel, apoptosis terjadi pada limfosit T CD4 yang teraktivasi sebelumnya oleh Antigen Precenting Cells (APC) serta ikatan dengan glikoprotein 120/41 pada reseptor CD4, mekanisme ini dikenal dengan activation-induced cell death. Peningkatan aktivitas imun oleh protein virus HIV menyebabkan adanya disregulasi sitokin terutama peningkatan Tumor Necrosis Factor Alpha (TNF-") pada makrofag, sehingga mengakibatkan apoptosis pada sel T CD4 (Fevrier, et al., 2011).
Menurut Ffrench, et al., (1997), berikut beberapa mekanisme yang terlibat dalam penurunan sel-sel T CD4:
 
TEMPLATE MODIFIED BY LULUKADA